Sekolah Tidak Dibatasi Oleh Tembok

SEKOLAH TIDAK DIBATASI OLEH TEMBOK

Catatan ringan dari Seminar Daring Berjalan dalam Pedagogi Fransiskan’

bersama

Br. Joaquín Arturo Echeverry Hincapié OFM

Sekolah tidak dibatasi oleh tembok! Ini adalah salah satu pernyataan dari Br. Joaquín Arturo Echeverry Hincapié, seorang fransiskan asal Kolombia yang telah terjun dalam dunia pendidikan selama kurang lebih 35 tahun. Pernyataan itu diungkakan oleh Br. Joaquin dalam seminar daring via zoom  yang diselenggarakan oleh Sekolah Fransiskan dan Regina Pacis Jakarta, Sabtu lalu (8/01/2021).

Pernyataan itu sekaligus jawaban dari pertanyaan salah satu peserta seminar yang menyampaikan bagaimana mengatasi siswa yang tidak mau membuka kamera zoom saat kelas daring dan telat mengirimkan tugasnya.

Br. Joaquín menegaskan bahwa dewasa ini siswa dengan mudah mencari jawaban di internet untuk mempelajari sesuatu. Dalam konteks inilah Br. Joaquín memperlihatkan bahwa sekolah bisa berlangsung di luar tembok kelas. Tetapi pada saat yang bersamaan fungsi pendampingan seorang guru semakin dibutuhkan. Mengambil contoh murid yang tidak mau membuka kamera zoom, Br Joaquin mengajukan pertanyaan refleksi kepada semua peserta apakah kita sebagai guru pernah bertanya langsung kepada siswa tersebut mengapa ia tidak membuka kamera zoom. ´Pernakah kita menelepon murid seperti itu dan menanyakan keadaannya, apakah ia baik-baik saja, apakah ibu-bapaknya sehat selama pandemi ini?”

Pertanyaan itu terkesan sederhana, tetapi menjadi langkah awal dari tugas utama guru yang memiliki semangat fransiskan untuk ‘mendekati’, ‘mendengarkan’ dan ‘memahami’ masalah si anak.

Br. Joaquin mensharingkan pengalamanya selama menjadi guru atau kepala sekolah di Kolombia, ia kerap mendatangi anak-anak didiknya saat mereka bermain dan mendengarkan cerita atau keluhan mereka. Baginya mendatangi dan mendengarkan masalah anak didiknya akan membantu proses belajar mereka di dalam kelas.

Kembali ke pertanyaan dari salah satu peserta seminar tadi, dari Roma Br. Joaquin menekankan bahwa selain mengajar bidang studi masing-masing yang tentu saja sesuatu yang melekat pada guru, peran lain yang tidak kalah penting adalah penampingan.

Bagaimanakah bentuk pendampingan selama pandemi kepada anak didik jika mereka tidak datang ke sekolah? Secara tidak langsung Br. Joaquin mengajak para peserta seminar untuk bertanya pada diri sendiri apakah pernah menelepon murid-muridnya secara pribadi, khususnya murid yang mengalami kesulitan?

‘Yang paling dikenang oleh murid ketika ia lulus atau dewasa nantinya, bukan hebatnya kita menjelaskan mata pelajaran, tetapi bagaimana kita berhubungan dengan mereka.’

Seminar dari yang direncanakan selama 90 menit tersebut terasa berlangsung lebih cepat karena Br. Joaquin mampu menjawab pertanyaan dari peserta dengan contoh nyata pengalaman pribadinya sebagai pendidik dan setiap contoh berdasarkan prinsip-prinsip pedagogi fransiskan.

Kontributor : Advent Tarigan Tambun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

11 − 10 =