Makan Siang Fransiskus – Berkat dalam Aksi

Di hadapan Covid-19, raga manusia terlihat lemah. Virus renik itu mengancam kebugaran jasmani manusia. Tak ada yang kebal terhadapnya. Sakit, bahkan yang berujung pada kematian, siap menghinggapi manusia. Serangan virus renik itu begitu kuat untuk meruntuhkan daya tahan tubuh manusia. Slogan “kesehatan itu harga mati” menjadi laku didengungkan dan dihayati dalam laku hidup manusia. Namun, apakah tantangan hanya semata terletak pada kesehatan fisik dengan semaksimal mungkin terhindar dari paparan Covid-19? Rupanya tidak. Pandemi Covid-19 membawa implikasi negatif yang begitu kompleks, salah satunya pada ranah ekonomi para pencari nafkah (pekerja) pinggiran. Sebut saja salah satunya adalah para tukang ojek konvesional.

Masalah utama yang dihadapi oleh para tukang ojek konvesional ini bukanlah soal apakah ia bebas dari sematan positif atau negatif Covid-19, melainkan apakah ia dan keluarganya dapat makan dan hidup layak setiap hari melalui pendapatan dari jasa angkutan penumpang. Apa yang mengganjal kerja mereka ialah minimnya pendapatan harian melalui jasa angkutan penumpang lantaran kalah bersaing dengan para tukang ojek online. Ini tidak terlepas dari animo masyarakat yang lebih memilih menggunakan jasa angkutan online, seperti Grab dan Gojek daripada jasa para tukang ojek konvesional. Tak ayal dalam beberapa kesempatan, penghematan biaya dilakukan oleh para tukang ojek konvesional demi tetap menafkahi keluarga melalui menu santap siang sederhana, seperti kerupuk dan kopi.

Ini bukan persoalan ‘gampangan.’ Keselamatan nyawa tidak hanya diukur dari kesehatan fisik dengan terhindar dari paparan Covid-19, tetapi juga mencakup kesehatan fisik lainnya karena mendapat asupan makanan yang bergizi berkat roda ekonomi keluarga yang berjalan baik. Mengingat bahwa tidak sedikit tukang ojek konvesional mengalami resesi ekonomi keluarga lantaran minim pendapatan dari jasa angkutan penumpang, suatu solusi kreatif perlu digalakkan demi membantu meringankan beban para tukang ojek konvesional ini.

Inilah yang ditunjukkan oleh segenap entitas dalam lingkungan persekolahan Santo Fransiskus melalui kegiatan berbagi “Makan Siang Fransiskus.” Proyek karitatif ini menyasar para tukang ojek konvesional yang ‘mangkal’ di sepanjang trotoar depan halaman gedung Yayasan Santo Fransiskus, Sentiong. Ada 20 nasi bungkus yang disediakan. Kegiatan ini mulai dilaksanakan sejak Kamis, 5 Agustus 2021 dan akan diadakan pada hari Kamis dalam setiap pekan. Menu makanan yang disajikan sama dengan menu makanan yang disiapkan untuk entitas persekolahan Fransiskus, Sentiong. Jumlah “Makan Siang Fransiskus” yang disiapkan ada sebanyak 20 bungkus. Adapun anggaran biaya diambil dari “Celengan Persaudaraan” yang telah digalakkan sebelumnya oleh entitas persekolahan Fransiskus.

Lebih lanjut, apa yang mendasari tindakan tulus ini ialah visi persekolahan Fransiskus, yakni “Menjadi Persaudaraan Pax et Bonum.” Ini terinspirasi dari formulasi ajakan Bapa Fransiskus, “Kamu semua adalah saudara.” Ini lantas diaktualisasikan dalam bentuk kegiatan kepedulian konkret kepada para tukang ojek konvesional di hamparan trotoar depan gedung Yayasan St. Fransiskus. Di sini apa yang nampak ialah kepeduliaan itu berbuah dalam aksi, bukan kata-kata kosong. Itu pula yang ditegaskan oleh Ibu Eldis, salah seorang pegawai di Yayasan St. Fransiskus, ketika menghampiri penulis di sela-sela acara pembagian Makan Siang Fransiskus, “berkat itu mesti disalurkan dalam aksi, jangan disimpan di hati melalui belas kasih saja.” Sejalan dengan itu, segenap entitas persekolahan Fransiskus mengajak kita semua untuk berani berbela rasa dalam aksi sebab kita semua adalah saudara.

Kontributor : Fr. Epang Danggur, OFM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five − four =