Di Tempat Ini Sunyi, Ada Kelimpahan Makanan
- Tanggal 16 Oct 2026

Suasana ibadat sabda Hari Pangan Sedunia di Sekolah Santo Fransiskus (Jumat, 16 Oktober 2026)
Di Tempat Ini Sunyi, Ada Kelimpahan Makanan: Selusin Langkah Kecil Merawat Ibu Bumi mengandung makna mendalam tentang seni menjalani kehidupan dengan sederhana, penuh syukur, dan bertanggung jawab terhadap seluruh ciptaan. Kesunyian bukanlah tanda ketiadaan, melainkan ruang untuk mendengarkan suara hati, merasakan kehadiran Tuhan, dan menyadari bahwa setiap butir nasi, jagung, kacang, serta buah-buahan merupakan anugerah kehidupan yang patut dihormati. Kelimpahan sejati tidak diukur dari banyaknya makanan yang tersaji di meja, melainkan dari kemampuan manusia mencukupkan diri, berbagi dengan sesama, dan menjaga keseimbangan alam.
Melalui selusin langkah kecil, kita diajak mengubah kebiasaan sehari-hari menjadi tindakan kasih ekologis: makan secukupnya, menghabiskan makanan, memilih pangan lokal, mengurangi plastik, mengelola sampah, menanam tanaman pangan, dan berbagi dengan mereka yang berkekurangan. Semangat ini sejalan dengan ensiklik Laudato Si’ yang mengingatkan kita bahwa bumi adalah rumah bersama yang harus dirawat dengan penuh tanggung jawab.
Dalam semangat Santo Fransiskus dari Assisi, kesederhanaan menjadi jalan menuju persaudaraan dengan seluruh ciptaan. Setiap tindakan kecil yang dilakukan dengan cinta memiliki kekuatan untuk menghadirkan perubahan besar. Ketika keserakahan dibungkam dan kepedulian bertumbuh, kelimpahan menemukan maknanya yang sesungguhnya. Merawat pangan berarti merawat kehidupan; mengurangi sampah berarti menghormati bumi; dan berbagi makanan berarti menghadirkan kasih Tuhan bagi semua makhluk, kini dan sepanjang masa.
Hari Pangan Sedunia
Dalam Perayaan Hari Pangan Sedunia, kita diajak menundukkan hati, mendengarkan bisikan bumi, dan menyadari bahwa setiap butir padi, setiap tetes air, serta setiap benih yang tumbuh adalah puisi kehidupan dan anugerah yang menghidupi seluruh ciptaan. Di tengah dunia yang terus bergerak dalam arus inovasi pangan, teknologi pertanian cerdas, pangan lokal bergizi, dan sistem produksi berkelanjutan, kita menenun harapan bagi ketahanan pangan masa depan yang tidak hanya melimpah, tetapi juga sehat, terjangkau, adil, dan menyelamatkan martabat manusia. Sebab, kemajuan sejati bukanlah ketika segelintir orang menikmati meja yang penuh sementara banyak sesama menanggung lapar, melainkan ketika setiap tangan dapat meraih makanan yang layak dan setiap hati belajar berbagi tanpa menghitung untung-rugi.
Solidaritas pangan adalah panggilan untuk merawat tanah, melindungi petani, mengurangi pemborosan, menghormati keanekaragaman hayati, dan menghadirkan kasih dalam setiap hidangan yang tersaji. Dalam kesunyian, ada kelimpahan makanan: ketika keserakahan berhenti bersuara, ketika alam diberi ruang untuk bernapas, ketika tangan-tangan sederhana menanam dengan setia, dan ketika manusia belajar mengambil secukupnya serta berbagi selebihnya, di sanalah kelimpahan sejati bersemi—bukan semata-mata dalam banyaknya makanan di atas meja, melainkan dalam kedamaian bumi, kesehatan tubuh, keadilan sosial, dan cinta kasih yang memastikan tak seorang pun berjalan sendirian dalam kelaparan.

Sekolah Fransiskus Pax et Bonum
Di tengah hiruk-pikuk Kota Metropolitan Jakarta, Sekolah Fransiskus Pax et Bonum merayakan Hari Pangan Sedunia dengan kesederhanaan yang menyimpan kekayaan makna, sebab apa pun masakannya, hendaknya setiap hidangan merangkul spiritualitas Laudato Si’, yang mengajak kita merawat bumi sebagai rumah bersama dan menghormati setiap ciptaan sebagai anugerah Tuhan.
“Kacang rebus, jagung rebus, dan pisang rebus hadir bukan sekadar sebagai santapan sederhana, melainkan sebagai puisi syukur atas kesuburan tanah, kemurahan alam, ketekunan petani, dan kasih yang menghidupi”, ungkap Sdr. Bonakasius Jebarus, OFM dalam ibadah Hari Pangan Sedunia di sekolah Fransiskus, 16 Oktober 2026. Di antara gedung-gedung tinggi dan deru kendaraan metropolitan, anak-anak, guru, dan seluruh warga sekolah diajak menemukan kembali kebijaksanaan hidup Santo Fransiskus dari Assisi: bahwa kebahagiaan tidak selalu lahir dari kemewahan, tetapi tumbuh dari kesederhanaan, persaudaraan, dan rasa cukup.
Makanlah secukupnya, syukurilah setiap suapan, habiskanlah makanan dengan penuh kesadaran, dan jangan tinggalkan sampah yang melukai Ibu Bumi. Sebab, setiap biji jagung yang dihargai, setiap kulit pisang yang dikelola dengan bijak, dan setiap wadah yang digunakan kembali merupakan ungkapan kasih yang nyata kepada bumi dan sesama. Inilah perayaan yang melampaui meja makan: sebuah pendidikan ekologis yang menanamkan benih tanggung jawab dalam hati, membangun persaudaraan dengan seluruh ciptaan, dan menyuarakan Pax et Bonum—damai dan kebaikan—melalui tindakan-tindakan kecil yang bermakna. Di Sekolah Fransiskus Pax et Bonum, Hari Pangan Sedunia menjadi pengingat bahwa ketika kita makan dengan rasa syukur, hidup dengan sederhana, dan meninggalkan sesedikit mungkin jejak sampah, kita sedang memuliakan Sang Pencipta dengan merawat kehidupan dan menjaga keutuhan rumah bersama bagi generasi mendatang.
Ada Kelimpahan Makanan
“Di Tempat Ini Sunyi, Ada Kelimpahan Makanan” adalah sebuah ajakan untuk menemukan kekayaan sejati bukan dalam kemewahan hidangan, melainkan dalam rasa syukur, kesederhanaan, kepedulian, dan solidaritas terhadap sesama serta Ibu Bumi. Ada selusin langkah praktis untuk mewujudkannya: pertama, makanlah secukupnya sesuai kebutuhan tubuh agar tidak ada makanan yang terbuang; kedua, syukurilah setiap suapan sebagai anugerah Tuhan dan hasil kerja keras para petani; ketiga, utamakan pangan lokal dan musiman yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat; keempat, pilihlah makanan sehat dan bergizi yang mendukung pertumbuhan serta kesejahteraan; kelima, masaklah sesuai kebutuhan dengan perencanaan yang bijaksana; keenam, habiskan makanan di piring sebagai wujud penghormatan terhadap pangan; ketujuh, kurangi sampah makanan dan plastik sekali pakai agar tidak melukai rumah bersama; kedelapan, manfaatkan sisa makanan secara bertanggung jawab, misalnya dengan mengolah bahan yang masih layak atau membuat kompos dari sisa organik; kesembilan, berbagilah dengan mereka yang berkekurangan agar tidak seorang pun dibiarkan lapar; kesepuluh, tanamlah tanaman pangan sederhana di halaman, kebun sekolah, atau dalam pot sebagai sarana belajar merawat kehidupan; kesebelas, libatkan anak-anak, guru, orang tua, dan masyarakat dalam gerakan pangan sehat, hemat, dan ramah lingkungan; serta kedua belas, jadikan setiap kegiatan makan sebagai praktik spiritualitas ekologis, sebagaimana semangat Laudato Si’ dan teladan kesederhanaan Santo Fransiskus dari Assisi yang mengundang kita hidup dalam persaudaraan dengan seluruh ciptaan.
Dengan menjalankan selusin langkah ini secara konsisten, rumah, sekolah, kantin, dan ruang makan dapat menjadi tempat yang tenang tetapi penuh makna: tempat makanan dihormati, kelaparan dilawan, sampah dikurangi, dan kasih diwujudkan dalam tindakan nyata. Sebab, di tempat yang sunyi dari keserakahan, tumbuh kelimpahan rasa syukur; di tempat yang sederhana dalam konsumsi, hadir kekayaan solidaritas; dan di tempat manusia merawat bumi, pangan menjadi berkat bagi semua makhluk, kini dan bagi generasi mendatang.
Kontributor:
Dr. Vinsensius Darmin Mbula, OFM
Ketua Yayasan Santo Fransiskus Jakarta, Ketua Presidium Majelis Nasional Pendidikan Katolik dan Anggota Dewan Pendidikan Nasional (DPN) dan Aggota Dewan Pendidikan Tinggi (DPT)
Berita
- Di Tempat Ini Sunyi, Ada Kelimpahan Makanan
- Menjadi Manusia di Era Mesin Pintar: Saat AI Punya Jawaban, Manusia Punya Hati
- HUT SMP Fransiskus dan SMA Fransiskus 1
- Bukalah Pintu Gerbang Kemenangan
- SK Kelulusan SMA Fransiskus 1 – 2026
- Konsumsi Pangan Nusantara untuk Indonesia yang Lebih Sehat
- Hari Pangan Sedunia 2025 di Sekolah Fransiskus Unit Kramat
- Perayaan Syukur 6 Dekade Yayasan Santo Fransiskus
Riwayat St. Fransiskus Asisi
Pengunjung
- 12
- 12
- 1,048
- 4,860
- 40,603

