Menjadi Manusia di Era Mesin Pintar: Saat AI Punya Jawaban, Manusia Punya Hati
- Tanggal 18 Sep 2026

Saudara Sipri Sina OFM (kedua dari kiri) bersama Bapak Uskup Emeritus Keuskupan Bogor, Mgr. Paskalis Bruno Syukur OFM (ketiga dari kiri), dan perwakilan Sekolah Fransiskus Jakarta, saudara Christophorus Widialvaro (keempat dari kiri), bersama para peserta lain, dalam pertemuan yang diinisiasi oleh Scholas Occurentes di Bali.
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) saat ini melesat luar biasa cepat. Di satu sisi, AI mempermudah banyak urusan kita sehari-hari. Namun di sisi lain, pernahkah kita berpikir: jika mesin bisa melakukan hampir segalanya, lalu apa yang membedakannya dengan manusia? Pertanyaan reflektif inilah yang menjadi pusat diskusi dalam acara bergengsi World Encounter Summit – Bali 2026: Artificial Intelligence and Human Meaning dan XI International Scholas Chairs Congress. Acara berskala internasional ini berlangsung pada 2–8 September 2026 di United In Diversity (UID) Bali Campus. Salah satu perwakilan dari komunitas sekolah Fransiskus Jakarta berkesempatan langsung untuk mengikuti program ini, yaitu Young Changemakers Programme, dan membawa pulang banyak cerita serta refleksi yang sangat berharga untuk kita semua.
Pendidikan Bukan Pabrik, Melainkan Tempat Perjumpaan
KTT dunia ini diinisiasi oleh Scholas Occurrentes, sebuah gerakan pendidikan global yang digagas oleh Paus Fransiskus sejak tahun 2013. Dalam bahasa Latin, Scholas Occurrentes berarti “sekolah-sekolah yang berjumpa”. Gerakan ini membawa sebuah visi humanis yang sangat relevan bagi dunia pendidikan kita saat ini: sekolah tidak boleh menjadi sebuah pabrik yang hanya mencetak nilai akademis. Sebaliknya, pendidikan sejati harus menjadi tempat perjumpaan tiga bahasa, yaitu bahasa kepala untuk berpikir, hati untuk merasakan, dan tangan untuk bertindak.
Melalui konsep inklusif ini, anak-anak muda dari berbagai latar belakang budaya, suku, status sosial, bahkan agama yang berbeda seperti Katolik, Muslim, Yahudi, Hindu, Buddha, hingga Konghucu dikumpulkan untuk duduk bersama. Mereka belajar bertoleransi, merawat lingkungan, meruntuhkan sekat perbedaan, dan yang paling penting adalah belajar untuk tidak saling mengucilkan (bullying).
Belajar Keluar dari Zona Nyaman dan Membangun Ikatan Sejati
Selama satu minggu penuh di Bali, perwakilan sekolah kita bergabung dengan para dosen, akademisi, dan generasi muda dari berbagai belahan dunia, seperti Spanyol, Jepang, Malaysia, India, Sri Lanka, serta rekan-rekan dari berbagai daerah di Indonesia. Selain menghadiri Congress Meeting yang diisi oleh tokoh-tokoh penting dan akademisi kelas dunia dari MIT hingga Harvard, kami para peserta juga diajak mengeksplorasi keindahan alam Bali, belajar membuat cokelat langsung dari prosesnya, dan menyelami budaya lokal.
Namun, esensi terbesar dari perjalanan ini justru lahir dari momen-momen sederhana di luar kelas. Lewat diskusi kelompok dan sesi percakapan mendalam (deep talk), para peserta belajar meruntuhkan dinding kecemasan mereka. Pengalaman ini menjadi wadah pengembangan diri yang luar biasa untuk melatih rasa percaya diri, keluar dari zona nyaman, dan menyadari bahwa kita semua pada dasarnya bersaudara.
Satu hal yang paling membekas dari seluruh rangkaian kegiatan ini adalah sebuah kesimpulan mendalam: secanggih apa pun teknologi AI berkembang dan menggeser pola interaksi sosial kita, ia tidak akan pernah bisa menggantikan ikatan emosional dan hubungan sejati antarmanusia (the bond between human beings). Teknologi bisa meniru logika, tetapi ia tidak memiliki empati.
Menghadapi Realita Digital: Tantangan Konkret di Sekitar Kita
Kita tidak bisa menutup mata bahwa AI telah mengubah cara kita hidup. Di ruang kelas, siswa kini bisa membuat esai dalam hitungan detik menggunakan ChatGPT. Di rumah, algoritma media sosial menentukan apa yang kita lihat, sering kali menjebak kita dalam “gelembung” opini kita sendiri dan menjauhkan kita dari orang-orang nyata di sekitar kita.
Tantangan terbesarnya adalah krisis empati. Ketika semua jawaban bisa ditemukan di Google atau AI, kita cenderung menjadi malas mendengarkan sesama. Kita melihat teman yang sedih di media sosial, tetapi kita hanya memberikan ikon “simpati” alih-alih datang dan memeluknya. Di sinilah letak bahayanya: kita perlahan-lahan hidup seperti robot—efisien namun dingin, pintar namun mati rasa.
Membawa Semangat Bali ke Lingkungan Sekolah dan Rumah
Pengalaman berharga dari Bali ini bukan sekadar cerita pengisi halaman web sekolah, melainkan sebuah ajakan konkret bagi seluruh komunitas kita—mulai dari guru, staf pendidik, siswa, orang tua, hingga alumni. Pendidikan sejati tidak berhenti saat bel pulang sekolah berbunyi. Tetapi, bagaimana kita bisa mengaplikasikan semangat ini dalam kehidupan sehari-hari di era AI? Untuk Para Siswa: jadilah teman yang nyata, bukan sekadar pengikut virtual belaka. Contoh nyata: saat kerja kelompok, jangan hanya membagi tugas lalu menyelesaikannya masing-masing lewat AI. Duduklah bersama, diskusikan idemu, dan dengarkan pendapat temanmu dengan tatap muka.
Ketika melihat teman sekelas sedang stres karena ujian, singkirkan ponselmu selama 10 menit. Dengarkan ceritanya, tawarkan bantuan, atau sekadar belikan mereka camilan. Kehadiran fisik dan perhatian tulusmu adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa deprogram dan digantikan oleh AI. Selain itu, aksi digital bijak: gunakan AI untuk membantumu memahami materi pelajaran yang sulit (sebagai mentor belajar), tetapi jangan biarkan AI menggantikan caramu berpikir kritis atau mengekspresikan perasaan kejujuranmu dalam berkarya dan belajar.
Untuk Para Guru dan Tenaga Pendidik: Mengajar dengan Mengetuk Hati. contoh nyata: sebaiknya, jangan hanya menilai tugas siswa berdasarkan kesempurnaan tata bahasanya—karena AI bisa melakukannya dengan sempurna. Nilailah prosesnya, keunikan perspektif mereka, dan nilai-nilai kejujuran di dalamnya. Di awal kelas, luangkan waktu 5 menit untuk bertanya, “Bagaimana kabar kalian hari ini?” secara personal. Ciptakan proyek pembelajaran berbasis sosial, misalnya mengajak siswa membuat kampanye digital atau aksi nyata untuk membantu panti asuhan lokal, kebersihan lingkungan sekitanya sehingga mereka belajar menggunakan teknologi untuk berbuat kebaikan yang bisa dirasakan dan dialami nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk Orang Tua dan Alumni: Ciptakan “Zona Bebas Gawai” di Rumah. Contoh nyata: buat aturan bersama di rumah, misalnya “Tidak ada ponsel di meja makan”. Gunakan waktu makan bersama untuk melakukan deep talk—bertanya tentang hal-hal kecil yang menyenangkan atau mengesalkan yang dialami anak hari itu. Sebagai alumni, mari luangkan waktu untuk kembali ke sekolah, menjadi mentor bagi adik-adik kelas, bukan hanya membagikan tips sukses karier, tetapi juga berbagi pengalaman hidup tentang bagaimana bertahan di tengah tekanan dunia kerja digital dengan tetap menjaga kesehatan mental dan spiritual zaman ini yang penuh dengan tantangan dan pergulatan masing-masingnya.
Akhirnya, di penghujung tulisan ini ingin disampaikan bahwa masa depan peradaban kita tidak ditentukan oleh seberapa pintar teknologi yang berhasil kita ciptakan, melainkan oleh seberapa bijaksana dan manusiawi kita dalam menggunakannya baik dalam berpikir, berperasaan, dan bertindak sebagai manusia yang mampu memanusiakan sesama di sekitar kita. Mari bersama-sama bergandengan tangan menjadi Change Maker bagi yang lain demi menumbuhkan komunitas yang tidak hanya cerdas secara digital, tetapi juga kaya akan nilai kemanusiaan yaitu nilai-nilai Santo Fransiskus Assisi dalam cara kita berpikir, berperasaan, dan bertindak. Salam Pax et Bonum. **
Kontributor: Sdr. Sipri Sina, OFM
Berita
- Menjadi Manusia di Era Mesin Pintar: Saat AI Punya Jawaban, Manusia Punya Hati
- HUT SMP Fransiskus dan SMA Fransiskus 1
- Bukalah Pintu Gerbang Kemenangan
- SK Kelulusan SMA Fransiskus 1 – 2026
- Konsumsi Pangan Nusantara untuk Indonesia yang Lebih Sehat
- Hari Pangan Sedunia 2025 di Sekolah Fransiskus Unit Kramat
- Perayaan Syukur 6 Dekade Yayasan Santo Fransiskus
- SK Kelulusan SMA Fransiskus 1 – 2025
Riwayat St. Fransiskus Asisi
Pengunjung
- 100
- 73
- 915
- 3,486
- 39,028

