Value Tentang Kejujuran

Dalam kegiatan seminar pendidikan ini pula,  panitia mengundang dan menghadirkan Br. Siprianus Sina, OFM sebagai narasumber kedua; beliau membagikan sejumlah  informasi, pemahaman dan sharing pengalaman mengajar dan bekerja di dunia pendidikan, dengan fokus tekanan soal “Value Tentang Kejujuran” – sebuah model pendekatan pendidikan karakter peserta didi di zaman ini. Para peserta seminar merasa senang dan semakin bersemangat dalam mengikuti sesi kedua bersama narasumber; tentu saja dalam panduan sang moderator, Br. Rahmat Simamora, OFM; yang tentunya juga bersemangat dalam melaksanakan tugasnya sebagai moderator, fasilitator. Br. Sipri selaku narasumber seminar pendidikan Yayasan Santo Fransiskus kali ini menawarkan alur dan urutan paparan materi sebagai berikut: Kejujuran dari pihak orang tua/wali ⇒ Penanaman nilai kejujuran dari pihak guru ⇒ Pendidikan yang memerdekakan ⇒ Penerapan karakter jujur oleh peserta didik ⇒ Keutamaan prilaku jujur.

Para pembaca yang baik, dalam bagian awal paparannya, Br. Sipri menyampaikan dasar atau landasan berpikir mengenai makna pembinaan karakter peserta didik di sekolah; sebagaimana yang ditegaskan dalam pasal 3, UU No.20 Tahun 2003, tentang Tujuan Pendidikan Nasional di Negara Indonesia :

Bahwa “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Arti dan makna kejujuran

Jujur, kejujuran (KBBI) : lurus hati, tidak berbohong, tidak curang, tulus dan ikhlas. Karakter jujur apabila dalam hati dan batin seseorang cenderung lurus atau tidak curang, sehingga mempengaruhi pikirannya untuk selalu mencari cara untuk berbuat jujur yang kemudian diwujudkan dalam sikap dan tingkah lakunya baik terhadap dirinya maupun lingkungannya. Paparan selanjutnya, Br. Sipri menyampaikan beberapa contoh sikap jujur yang dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari, ketika kita berhadapan dengan anak-anak, para siswa atau pun orang lain.

Peran guru  sepanjang waktu

Pada bagian selanjutnya, para peserta seminar diberikan informasi yang bagi narasumber menjadi sesuatu yang dapat kembali “menyegarkan ingatan dan pemahaman kita” tentang peran guru yang sangat penting dalam proses pembentukan karakter peserta didik. Peran guru yang disebutkan oleh narasumber, yakni :

1) guru sebagai pendidik,

2) guru sebagai pengajar,

3) guru sebagai motivator,

4) guru sebagai pembimbing.

Setelah menguraikan empat peran guru di atas, narasumber mengajak semua guru yang mengikuti kegiatan seminar ini untuk kembali berefleksi “sejauhmana sebagai seorang guru, saya sudah mampu mewujudkan peran kita? Sungguhkah kita sudah menjalankan peran kita sebagai guru yang mendidik, guru yang mengajar, guru yang memotivator, dan guru yang senantiasa membimbing?

Dalam sesi sapaan akhir kegiatan seminar pendidikan ini, Romo Mateus, OFM, selaku Ketua Yayasan Santo Fransiskus Jakarta memberikan ucapan terima kasih kepada para narasumber, para pengisi acara selingan, ketua panitia, para tim IT, operator dan semua saja pihak yang dengan carannya masing-masing mendukung terlaksananya acara seminar pendidikan ini. Sejumlah penekanan terhadap paparan para narasumber pun disampaikan oleh Romo Mateus kepada semua peserta seminar. Beberapa point penekanan tersebut adalah :

  • Strategi pembelajaran yang dilaksanakan oleh masing-masing guru hendaknya terarah kepada pelayanan bagi kebutuhan belajar siswa.
  • Tugas guru: professional dalam bidang karyanya, mengenal karateristik murid, sehingga guru dapat mempersiapkan bahan materi ajar yang menarik bagi siswa.
  • Yang menjadi “leader” paling hebat, guru yang paling mampu menjadi “ahli” dalam dunia pendidikan yakni kita sendiri: guru-guru Sekolah Fransiskus Jakarta.
  • Sangat penting setiap guru senantiasa mewujudkan sikap rendah hati, mau mendengarkan siswa, merasakan situasi kehidupan dan pergulatan siswa dalam pelaksanaan tugas Anda sekalian sebagai guru.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

18 − 14 =