Kerjasama yang Menguatkan di Era Pandemi

Pada hari Sabtu, 23 Oktober 2021 pukul 09.00 – 12.00 Yayasan Santo Fransiskus Jakarta kembali mengadakan webinar bertajuk “ Kerjasama yang Menguatkan di Era Pandemi”. Webinar ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan ulang tahun Yayasan Santo Fransiskus Jakarta yang ke-56. Kegiatan webinar ini dilaksanakan menggunakan virtual meeting zoom. Pada kesempatan ini Yayasan mengundang dua narasumber yaitu Bruder Titus Angga Restuaji, OFM, M.Ed. Beliau akrab dipanggil Bruder Titus, saat ini menjabat Direktur Pendidikan Yayasan Santo Fransiskus Jakarta. Narasumber yang kedua adalah  dr. Josephine Rahma Gunawan, MbiomedHlthSc. Beliau sebagai dokter umum dan seorang wiraswasta. Webinar kali ini dipandu oleh Ibu Mian Nababan, SE., Kepala SMA Fransiskus 2.

Sessi pertama webinar dengan narasumber Br. Titus, OFM menyuguhkan tema “Penggunaan Teknologi di Sekolah : Tak Terhindarkan”. Dalam sessi ini Br. Titus memberikan gambaran tentang situasi dan kondisi pendidikan saat ini. Pandemi covid-19 berdampak negatif. Pandemi covid-19 menimbulkan sekurang-kurangnya tiga dampak negatif, pertama adalah kenaikan angka putus sekolah. Kedua, penurunan capaian hasil belajar, dan ketiga, meningkatnya kekerasan pada anak. Pihak sekolah perlu selalu mengupayakan pelatihan-pelatihan bagi para pendidik untuk menghadapi perubahan karakter pembelajaran, terutama pascapandemi. Bagaimana mengkolaborasi teknologi dalam pembelajaran. Yang perlu diperhatikan oleh sekolah adalah persiapan kelas tatap muka. Untuk mengantisipasi dan menghadapi hal-hal tersebut perlulah kerjasama di sekolah selama pandemi. Bruder Titus menjabarkan tentang konsep “AGILE TEAM”. Agile yang berarti ketangkasan. Kita harus cepat tanggap, cepat merespon adanya perubahan yang terjadi, dari metode belajar yang konvensional menjadi digital. Berikut adalah konsep/ciri-ciri agile team. Pertama adalah prioritas pada peserta didik. Apa yang sunggguh dibutuhkan oleh para peserta didik. Situasi apa yang dihadapi oleh keluarga mereka. Kedua, terbuka terhadap perubahan. Ketiga, interaksi dan saling tukar informasi.  Keempat, pembagian tugas dan tanggungjawab. Kelima, menjaga motivasi anggota tim. Keenam, perencanaan kerja tim yang efektif. Ketujuh, menguatkan pemahaman anggota tim. Kedelapan, mendorong sustainable develompmentartinya mendorong anggota tim (guru) untuk dapat menerapkannya bagi diri sendiri dalam pembelajaran ataupun di luar pembelajaran. Kesembilan, rencana kerja yang doable (detail, tidak membatasi kreativitas). Dan yang terakhir, kesepuluh adalah budaya tim yang self-sustained (mandiri, peran pemimpin moral, dan support). Sebagai kesimpulan Bruder Titus menegaskan bahwa konsep agile tim sangat mungkin diterapkan di sekolah. Karena konsep ini menitikberatkan pada kerjasama. Dengan kerjasama tim yang solit akan sangat berdampak pada sekolah untuk menghadapi perubahan-perubahan di sekitar. Agile tim di sekolah akan menumbuhkan pendidik-pendidik yang kreatif, ide-ide cemerlang untuk mencapai sasaran/tujuan sekolah kita. Sekolah tidak menyangka ada peristiwa pandemi covid-19 ini maka dengan pola kerja yang cepat tanggap sangat diperlukan oleh sekolah. Kerjasama tim yang solit sangat perlu kita tumbuk kembangkan.

Sessi kedua webinar ini menghadirkan narasumber yaitu seorang dokter muda yaitu dr. Josephine Rahma Gunawan. Beliau bertugas di RS Panti Wilasa Citarum, Semarang. Selain berprofesi sebagai dokter juga seorang wiraswasta. Kali ini dr. Josephine akan memaparkan materi tentang “Pencegahan Penularan Covid-19 di Sekolah”. Peserta webinar akan diingatkan dan disegarkan kembali hal ihwal tentang dampak dan pencegahan pandemi. Covid-19 terdeteksi pertama kali di Indonesia pada tanggal 3 Maret 2020. Penutupan sekolah dengan pembelajaran tatap muka sebagai salah satu langkah pencegahan penularan covid-19. Usia sangat berpengaruh terhadap angka kesakitan dan kesembuhan. Dari data, usia lansia sangat rentan maka menunjukkan angka kematian tinggi. Secara umum, anak-anak yang terinfeksi covid-19 memiliki gejala penyakit lebih ringan, atau bahkan tidak terdeteksi. Perananak-anak dalam mekanisme penularan covid-19 belum diketahui secara pasti.  Efek pembelajaran daring terlalu lama  sebagai berikut.

  1. Kesehatan fisik, disebabkan kurang aktivitas fisik, perilaku sedenter, obesitas, dan kesehatan mata (myopia)
  2. Kesehatan mental (cemas, depresi, stres, tantrum, dan gangguan tidur)
  3. Interaksi sosial ( merasa sendiri, kekerasan pada anak meningkat)

Pencegahan penularan covid-19 secara umum baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah merupakan tanggung jawab bersama. Di lingkkungan sekolah yang sudah PTM, yang diperlukan adalah kesadaran dan pengetahuan tentang bagaimana proses penularan. Harus ada koordinasi antara guru, satgas covid di sekolah, orangtua, dan Puskesmas setempat.  Peran pemerintah sebagai Policy  Maker, panduan untuk penyelanggaraan PTM di masa pandemi Misalnya. Pencegahan penularan secara umum adalah memakai masker, mencuci tangan dengan sabun di air mengalir, tidak menggunakan AC, dan buka jendela. Salah satu pencegahan penularan adalah dengan vaksinasi. Di indonesia, vaksinasi pada anak rentang usia 12-17 tahun sudah dapat dilakukan menggunakan vaksin Sinovac. Vaksin ini diberikan 2 kali dengan jarak 1 bulan dan dalam kondisi sehat. Berikut adalah pencegahan penularan (khusus) di lingkungan sekolah yaitu

  1. Membentuk satgas covid-19 di sekolah (pengecekan suhu tubuh, deteksi dini siswa/staff bergejala. Tim ini bisa bekerja sama dengan komite sekolah.
  2. Promosi kesehatan (sedukasi, memperbanyak tempat sanitasi/cuci tangan, tim kesehatan). Hal ini bisa berkoordinasi/bekerjasama dengan Puskesmas setempat.
  3. Menyusun kurikulum khusus (kombinasi tatap muka dan daring , alokasi waktu pembelajaran, jumlah guru, dan penilaian tugas).
  4. Layout ruang kelas (kapasitas 50%, ventilasi terbuka, jaga jarak 1-1,5 meter, hindari kerumunan, disinfektan ruangan.
  5. Melakukan evaluasi rutin (tingkat kepatuhan, efektivitas pembelajaran, diskusi tentang kekurangan.

Bagimana jika diduga atau terkonfirmasi kasus covid-19 yang muncul? Jika merasa kurang sehat maka dilakukan BDR dan periksa ke dokter. Jika ada kasus terkonfirmasi harus dilakukan tracing, isolasi mandiri, pemeriksaan kesehatan ke dokter, dan pemberhentian kegiatan belajar tatap muka.

Webinar ini menjadi semakin hangat karena antusias peserta dengan berbagai macam pertanyaan dan sharing pengalaman dalam sessi tanya jawab. Materi webinar kali sungguh dapat menambah pengetahuan para peserta, para guru. Kita diingatkan dan disegarkan kembali bahwa PTM harus tetap menjaga prokes. Kerjasama yang baik dengan berbagai pihak sangat perlu dilakukan. Webinar ini ditutup dengan doa dari Pak Vitalis dan berkat dari Pater Jhon Tukan, OFM (Kepala Sekolah SMP Fransiskus)

Kontributor : Iviginea Ida Rahayu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

one × 4 =