Rekoleksi Guru dan Karyawan Yayasan St. Fransiskus Jakarta

Segenap guru dan karyawan Yayasan Santo Fransiskus Jakarta mengikuti rekoleksi secara daring melalui Zoom Meeting, Sabtu, 24 Juli 2021 pukul 08.00-10.00 WIB.  Rekoleksi yang bertema “Cahaya yang Selalu Bersinar” ini dibimbing oleh Br. Rahmat Simamora, OFM, selaku Kepala Sekolah SMK Fransiskus 1.

Mengawali rekoleksi ini, Br. Rahmat menegaskan bahwa rekoleksi yang dilaksanakan ini bukan bermaksud untuk mengggurui para guru dan karyawan. Rekoleksi ini lebih menjurus kepada suatu bentuk penyegaran, yakni kesempatan untuk merenungi dan memaknai kembali panggilan sebagai guru dan karyawan. Adapun sumber inpirasi permenungan adalah “relasi kasih” guru dengan peserta didik. Sejauh mana relasi kasih tersebut telah terjalin selama pembelajaran daring di masa pandemi Covid 19, khususnya di awal tahun pelajaran ini?

Pada kenyataannya tidak mudah bagi guru untuk membangun relasi kasih dengan peserta didik. Ada sejumlah hambatan ditemui di lapangan, terutama pandangan bahwa menjadi guru adalah pekerjaan (1) memindahkan isi buku ke dalam otak siswa, (2) menemani, menjaga anak-anak yang sedang ditinggal kerja orgtuanya, dan  (3)  menyiapkan anak-anak menghadapi Ujian Kelulusan (UN /AN /USK/ US dan sebagainya).

Untuk keluar dari cara pandang seperti itu, Br. Rahmat mencoba membangun refleksi peserta rekoleksi dengan tiga sumber inspirasi. Pertama, dengan mengutip tujuh pemikiran dari Andrias Harefa dalam bukunya berjudul Pembelajaran di Era Serba Otonomi :

  1. Guru merupakan panggilan jiwa yang tak mungkin “hilang”
  2. Menjadi guru merupakan pilihan moral – spiritual
  3. Guru memiliki peran belajar – mengajar, bukan mengajar – belajar
  4. Guru mensosialisasikan nilai-nilai luhur untuk hidup dan kehidupan
  5. Guru berfokus pada minat, bakat dan talenta peserta didik
  6. Guru menempatkan peserta didik sbg “mitra belajar” yang potensial
  7. Guru adalah seorang pembelajar seumur hidup.

Kedua, seri pastoral- Dokumen Gereja,  melalui Ensiklik “Laudato Si” dari Paus Fransiskus,  Perawatan Rumah Kita Bersama, 2015. Pendidikan katolik tidak akan efektif, dan segala upaya akan sia-sia, jika kita tidak berusaha untuk menyebarkan suatu cara berpikir baru tentang manusia, kehidupan masyarakat dan relasi kita dengan alam” (hlm 7). Ketiga, bersumber dari Kitab Suci, yaitu Kitab Daniel 12: 3, yang berbunyi: “ Dan orang-orang bijaksana akan bercahaya seperti cahaya cakrawala, dan yang telah menuntun banyak orang kepada kebenaran seperti bintang-bintang, tetap untuk selama-lamanya” (Daniel 12:3).

Ketiga sumber pemikiran inilah yang  dijadikan bahan refleksi sekaligus sebagai bahan sharing kelompok para guru dan karyawan. Diharapkan, melalui refleksi dan sharing kelompok ini, guru nantinya  mampu membangun relasi dengan para siswa dengan didasari oleh cinta dan kasih, layaknya relasi seorang ibu dengan anak-anaknya. Dengan begitu, guru akan menjadi pendidik yang hebat, yang mampu menginspirasi dan mempengaruhi siswa; guru yang pantas untuk digugu dan ditiru.

Sebagai penutup rekoleksi, Br. Rahmat menggarisbawahi pemikiran berikut.

Jika “cahaya” dalam diri guru meredup –  atau lebih dari itu: padam… maka boleh saya katakan sekolah bukan lagi menjadi sebuah tempat subur untuk  penyemaian nilai-nilai kehidupan, melainkan tempat yang akan memebawa manusia muda terjebak ke “jurang gelap yang tak bertepi”

*Semoga segenap guru dan karyawan Yayasan Santo Fransiskus setia pada panggilan jiwanya, sehingga senantiasa menjadi cahaya yang tetap bersinar, memberikan semangat dan inspirasi kepada peserta didik.

 Kontributor : Paulus Tain Tukan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

20 + two =